Skip to main content

Mahasiswa di Era Milenial



Mahasiswa itu kan identik dengan usia muda, ngomongin yang muda-muda nih. Katakanlah umur 17-30an lah ya, usia produktif. Masih semangat muda banget kan tuh. Pasti udah pada tahu dong umur-umur segini tuh disebut apaan sih? Atau ada yang belum tahu, bahkan belum pernah dengar? Wah, kayaknya sih gak mungkin yah. Soalnya generasi ini itu udah jadi perbincangan banget. Emang apa sih yang spesial dari Milenial?. Kenapa peran mahasiswa jadi penting banget di era ini. Kenapa mahasiswa dan kenapa milenial menjadi tema yang diangkat. Coba kita pikirkan apa korelasinya.


Menurut saya, ya karena jelas-jelas mahasiswa ini adalah gen milenial itu sendiri. Yang rentang umur 17 sampai 30an tahun. Sebagai mahasiswa yang hidup di era milenial pasti punya tantangan tersediri yang harus dihadapi jika dibandingkan dengan mahasiswa angkatan lama beberapa tahun kebelakang. Era ini identik sekali dengan teknologi. Dimana aktivitas-aktivitas sudah sangat terbantu berkat adanya bermacam alat-alat canggih itu.



Lalu sebagai mahasiswa, apa sih dampak yang terasa dari kehidupan di era ini. Jelas sekali kalau kita sangat tergantung kepada teknologi karna ke-efisian-annya. Segala aktivitas mudah begitu saja dilakukan. Mencari referensi tugas kuliah, gak melulu harus buku fisik, ada e-book dan e-jurnal yang dengan mudahnyaa dapat kita akses. Menyebarkan informasi penting pun jadi kian lebih cepat tersebar ke seluruh masyarakat kampus dengan adanya teknologi, khususnya internet. Zaman sekarang, orang cenderung malas membaca pengumuman yang sengaja ditempel secara konvensional, karena mereka kebayakan lebih sering menghabiskan waktu di dunia maya ketimbang dunianya yang real didepan mata. Berselancar di dunia maya tentunya tidak selalu buruk, yang penting tidak berlebihan. Kalau hidup di dunia maya untuk berkomunikasi, belajar, terkadang sedikit hiburan dan kegiatan-kegiatan produktif lainnya tentu saja bagus. Tapi kalau sebaliknya, lebih banyak mencari yang tidak penting dan tidak mempunyai impact positif terhadap dirinya. Itu hanya buang-buang waktu dan uang untuk membeli paket internet (iya buang-buang duit kalo gak pake free wifi qaqaa).



Positif itu seringnya diiringi oleh negatif ya. Banyak sekali manfaat teknologi untuk mahasiswa seperti beberapa yang disebutkan diatas. Tapi, apa semua kelebihan itu lantas membuat kita benar-benar berhenti dari aktivitas konvensional yang lebih ribet dan lama. Contohnya, menulis. Emang iya, sekarang orang-orang masih 'nulis'? bukannya ngetik, ya, yang lebih sering mereka lakukan?. Sekarang, informasi itu bukan diingat tapi di screenshot, mencatat itu gak ditulis tapi diketik melalui gadget. Sayangnya, mencatat dengan tulisan tangan dan mengetik itu punya hasil yang berbeda, loh. Penelitian mengungkapkan bahwa kita cenderung akan mengingat lebih lama pada sesuatu yang ditulis tangan daripada ketikan.



Selain itu, sebagai mahasiswa zaman now, orang-orang milenials akhir nih. Diberi kehidupan yang lebih relatif mudah dibandingkan mahasiswa jadul (jaman dulu). Kata guru saya, mahasiswa jamannya beliau itu adalah 'pejuang', kehidupan mahasiswanya susah, penuh tantangan. Kerja keras dan tanggung jawab yang diemban lebih terasa. "Jaman sekarang gampang, apa-apa tanya mbah (google red). Dulu kalau gak ngerti maksud dari sesuatu, kalau gak bertanya, ya cari sendiri di buku, begitupun mengerjakan tugas. Baca buku bertumpuk-tumpuk sampai informasi yang dia cari ketemu. Dan lagi-lagi cara konvensional dengan membaca buku cenderung akan membuat memori kita lebih lama mengingat daripada browsing internet yang beberapa jam kemudian bisa saja kita lupa, karna ketidakspesifikan informasi dan pencarian informasi yang hanya selewat saja. Setelah tahu, lalu kita close tab, dan lupa lagi.



Misalnya saja berita. ketika membaca berita di internet, dari satu berita yang sedang kita baca lalu muncul headline yang menarik akhirnya klik dan kita membacanya. Loncat-loncat terus seperti itu, cara kita mencari informasi. Sampai kita lupa apa yang kita dapat, kita membaca banyak berita tapi gak ada satupun yang benar-benar kita pahami. Yang menjadikan kebanyakan kita, manusia di era milenials, di zaman teknologi informasi ini, adalah manusia-manusia pembaca informasi bukan penyerap informasi.






Artikel ini dibuat untuk memenuhi misi PBAK 2018.



Mohon maaf apabila banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan.


Comments

Another popular post ..

Sebuah nama #Cerpen3

Karena hidup tidak akan pernah lepas dari cinta, ia selalu ada dimanapun. Kehadirannya mau tidak mau harusnya diakui saja bahwa dia ada, bahkan pada hati yang keras sekalipun dia mampu meluluhkan. Lalu bagaimana dengan hati yang kosong, mengapa cinta belum juga memilihnya untuk menetap disana, kemana cintanya mengembara, apakah dia memang ada atau tidak. Dia tidak pernah tau siapa yang akan disalahkannya karena sepi yang selalu saja menggema dalam dirinya, tidak tahu pada nama siapa ia harus menyampaikan rindunya. Bahkan dia lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Terakhir kali seseorang pernah mengisi relung-relung jiwanya, tiga tahun yang lalu. Cinta begitu membahagiakan, menyenangkan, tapi kadang tak menenangkan, bagaimana bisa tenang, saat malam datang bersama rindu yang tak pernah basa-basi untuk datang. Baginya itu sudah berlalu, dia tidak pernah membawa perasaan masa lalu di hidupnya hari ini. Karena memang tidak tersisa apapun selain nama yang masih ia ingat, dan har...

Tentang maaf

Meminta apa yang paling sulit? Buat keadaan saat ini, saya pilih meminta maaf. Ya sebenarnya nggak akan sesulit itu kalo kita punya keberanian. Berani ngomong duluan, berani mengakui kesalahan. bahkan kalo kita gak salah sekalipun! ini nih, berani banget. bikin pengin kasih 5 jempol kalo bisa, sama orang yang setulus ini. Berhubung cuma punya 4 jempol itupun keitung kaki, jadi yaudah, deh, saya acungkan 2 jempol tangan aja karena ngacungin kaki agak-agak gak sopan gitu kan ya, padahal itu kan suatu penghargaan yang amat mulia. Dan berani yang terakhir adalah berani ditolak, gak papa yang penting niat kita lurus niat kita tulus. Diterima atau ditolak itu urusan dia. intinya berani mengesampingkan ego. Ngomongin soal maaf, pasti manusia ada aja alasan untuk harus berurusan dengan yang gini- gini nih. Karena kan, manusia itu tempatnya khilaf ya. Iya nggak, WAHAI PARA MANUSYAAA, WOY?!!! Tapi adakalanya kita ada ditempat dimana sebenernya kita tuh gak salah salah amat atau b...

Siapa kamu?

Ketika pundakmu terasa seribu kali lebih berat, dan tubuhmu terpaksa kamu topang kuat-kuat. Ketika jiwamu terasa sesak, tolong jangan terus bergerak, ayo, istirahatlah sejenak. Kamu butuh ruang untuk hening, ruang yang beda bagi manusia masing masing. Apa dan dimana itu cuma kamu yang tahu, apa yang membuatmu dapat bernapas lepas sehingga bebanmu terlepas bebas. Memaksa lari ketika tenagamu hanya cukup untuk berjalan itu tidak patut. Berhentilah mengejar-ngejar kalau kamu lupa apa yang kamu tuju itu, apalagi sampai lupa hak kamu untuk bahagia, yang kupikir dalam hidup sangatlah perlu. Dahsyatnya usaha serta hebatnya kamu berkorban akan sia-sia, jika semua itu membuatmu lupa siapa kamu. Sejauh mana tulusmu, sudahkah kamu lakukan memang untukmu, atau untuk sesuatu yang membuat dadamu sesak itu. Boleh saja, melihat kilau pencapaian manusia lain yang memesona matamu, tapi bukan berarti kamu juga harus menjadi seperti itu. Kamu juga tidak tahu seperti apa usaha-usaha yang...