Ketika pundakmu terasa seribu kali lebih berat, dan tubuhmu terpaksa kamu topang kuat-kuat. Ketika jiwamu terasa sesak, tolong jangan terus bergerak, ayo, istirahatlah sejenak.
Kamu butuh ruang untuk hening, ruang yang beda bagi manusia masing masing. Apa dan dimana itu cuma kamu yang tahu, apa yang membuatmu dapat bernapas lepas sehingga bebanmu terlepas bebas. Memaksa lari ketika tenagamu hanya cukup untuk berjalan itu tidak patut. Berhentilah mengejar-ngejar kalau kamu lupa apa yang kamu tuju itu, apalagi sampai lupa hak kamu untuk bahagia, yang kupikir dalam hidup sangatlah perlu.
Dahsyatnya usaha serta hebatnya kamu berkorban akan sia-sia, jika semua itu membuatmu lupa siapa kamu. Sejauh mana tulusmu, sudahkah kamu lakukan memang untukmu, atau untuk sesuatu yang membuat dadamu sesak itu. Boleh saja, melihat kilau pencapaian manusia lain yang memesona matamu, tapi bukan berarti kamu juga harus menjadi seperti itu. Kamu juga tidak tahu seperti apa usaha-usaha yang dilakukannya, apa saja yang dikorbankan untuk sampai pada titik itu. Bisa jadi, dia juga sama sepertimu, melalui hari-hari berat, lalu terus memacu menggerus waktu hingga sampai pada tuju.
Bedanya, dia melakukan itu karena dirinya, tapi yang kamu usahakan, karena ingin menjadi seperti dia. Tanyakan lagi kedalam dirimu, siapa kamu? renungkan. Kamu punya cara hebatmu sendiri menjadi apa yang kamu senangi bukan malah membebani. Kamu sadar itu, tapi belum yakin, maka yang harus kamu lakukan sekarang adalah meyakinkan dirimu, yakin bahwa dirimu sangat melebihi mampu untuk menjadi semau kamu. Menuju apa yang kamu mau--impianmu.

Comments
Post a Comment