![]() |
Karena hidup tidak akan pernah lepas dari cinta, ia selalu ada dimanapun. Kehadirannya mau tidak mau harusnya diakui saja bahwa dia ada, bahkan pada hati yang keras sekalipun dia mampu meluluhkan. Lalu bagaimana dengan hati yang kosong, mengapa cinta belum juga memilihnya untuk menetap disana, kemana cintanya mengembara, apakah dia memang ada atau tidak.
Dia tidak pernah tau siapa yang akan disalahkannya karena sepi yang selalu saja menggema dalam dirinya, tidak tahu pada nama siapa ia harus menyampaikan rindunya. Bahkan dia lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.
Terakhir kali seseorang pernah mengisi relung-relung jiwanya, tiga tahun yang lalu. Cinta begitu membahagiakan, menyenangkan, tapi kadang tak menenangkan, bagaimana bisa tenang, saat malam datang bersama rindu yang tak pernah basa-basi untuk datang. Baginya itu sudah berlalu, dia tidak pernah membawa perasaan masa lalu di hidupnya hari ini. Karena memang tidak tersisa apapun selain nama yang masih ia ingat, dan hari ini, pada nama itu, memang benar-benar sebuah nama di masa lalu yang tidak lagi menyebabkan hatinya berdebar atau senyumnya begitu indah karena mata berbinar.
“Ran.. masih belum ada?”
“belum ketemu, mungkin lagi sembunyi”
“ih serius! Kayanya lo yang terus-terusan sembunyi dan nggak mau ditemukan”
“apa sih, udah ah gue balik duluan, bye”
“yee tuh anak, mau sampe kapan lo nunggu jatuh cinta?”
“sampe gue jatuh cinta”
Rani beringsut pergi meninggalkan sahabatnya yang sebenarnya begitu peduli dan sedikit cemas padanya , bukan tidak ingin mendengar wejangan-wejangan itu, ia hanya terlalu bosan, semakin hari pertanyaan Lia mengusik konsentrasinya. Kenapa Lia harus bertanya sampai kapan ia nunggu jatuh cinta, memang cinta harus dibuat-buat untuk bisa di bilang ‘aku telah merasakannya’ padahal tidak.
“gue kayanya suka sama seseorang”
“akhirnyaaa.. siapa yang udah berhasil bikin sahabat gue yang hatinya kaya batu ini bisa jatuh cinta juga. siapa?”
“gue suka, aja, nggak bilang jatuh cinta”
“emang apa bedanya suka sama cinta. Sama-sama aja. Initinya lo naksir, kan”
“beda lah, gue gak ngerasaian deg-degan, kaya orang lagi jatuh cinta"
“apapun itu, ini adalah kesempatan lo untuk jatuh cinta, jadi deketin dia, gak mau tau, gue siap bantuin lo”
Dia adalah seseorang yang di temuinya di sebuah toko buku beberapa hari yang lalu, tidak sengaja berkenalan karena alasan yang klise. Menjatuhkan sebuah buku, lalu tiba-tiba seseorang mencoba membantu mengambilnya. Kebetulan saja Rani terjebak dalam situasi ala-ala FTV seperti itu. Bedanya mereka tidak saling menatap satu samalain dengan diiringi lagu yang pas dengan moment seperti itu. Rani langsung berdiri dan mengucapkan terimakasih, lalu terjadilah sebuah perkenalan yang membawanya melanjutkan obrolan hingga ke sebuah café yang tak jauh dari toko buku.
Hari demi hari, minggu minggu yang terasa kian lebih berwarna karena kehadiran Sapta malah membuatnya bertanya-tanya. Rani memang bahagia, setiap kali lelaki itu memberikann perhatian-perhatian kecil, mengingatkannya untuk makan, atau sesekali dia bahkan datang ke rumah hanya sekedar untuk membawakan martabak ketan hitam yang sangat digilai Rani. Ucapan selamat malam ketika ia hendak tidur, membuat dia menjadi orang paling bahagia dan antusias untuk segera menyambut mimpi yang indah. Ketika terbangun, tidak ada yang lebih ia harapkan daripada ucapan selamat pagi yang manis dari Sapta meskipun hanya sekedar pesan melalui chat. Dia pikir akhirnya dia memang telah menjatuhkan hati pada lelaki itu, dia mencoba meyakinkan pada dirinya bahwa apa yang dirasakannya adalah cinta.
Setahun berlalu, betapa bahagianya Rani ketika ia mendapatkan kabar bahwa Sapta mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jerman, itu adalah mimpinya sejak dulu yang sempat di baginya pada Rani.
“kamu pasti bakal rindu”
“aku akan rindu kalau kamu terlalu lama disana, tapi aku ikut bahagia banget sap, akhirnya mimpimu di depan mata”
“selama kita jauh, kamu janji nggak akan hilang?”
“tenang, aku akan selalu disini, nunggu kamu pulang” “baik-baik ya, disana”
“kamu juga ya, selalu kabarin aku. Jangan hilang!”
Pesawat akan terbang sebentar lagi, Sapta memeluk erat dirinya. Lalu lambaian tangan dan senyum diantara dua orang yang akan saling merindu setelah keduanya akan di pisahkan oleh dua benua yang berbeda.
Setiap hari berlalu tanpa kehadiran Sapta di dekatnya, membuat Rani merasa kehilangan, meskipun di waktu luangnya, Sapta masih menyempatkan untuk bertukar kabar dan menceritakan tentang betapa senangnya dia di negeri itu atau berat dan melelahkannya kuliah dihari berikutnya. Tapi dua minggu terakhir ini, Sapta seolah hilang di muka bumi. Tidak ada kabar yang datang darinya, sesibuk itu kah ia. Berkali kali Rani mencoba menghubungi karena khawatir sesuatu terjadi pada lelaki itu. Tapi sayang, tak pernah ada jawaban.
Berbulan-bulan ia menunggu, bahkan setiap notifikasi yang muncul di layar hp-nya selalu ia harapkan, bahwa itu adalah Sapta yang akan datang dengan ucapan maaf dan alasan dibaliknya. Tapi, tidak pernah ada. Dan anehnya tidak ada rindu yang teramat, hanya kehilangan—kekosongan yang kembali datang, tanpa hati yang terkoyak seperti sebuah kehilangan dimasa lalu. Tidak ada kesedihan, yang ada hanya pertanyaan apa yang terjadi, apa yang membuatnya hilang tanpa kabar, apa kesalahannya, pikir Rani.
Baru tersadar kalau sebenarnya tidak pernah ada cinta di hati Rani, selama ini ia hanya berpikir bahwa dirinya telah jatuh cinta, tapi nyatanya itu tidak pernah terjadi. Mungkin Sapta hanya datang untuk mengisi kekosongan di hatinya. Setelah dia pergi tidak tersisa apapun, bahkan luka yang seharusnya ada, tidak berlaku untuk kepergian Sapta, hanya kosong yang sama kembali hadir, terdengar lebih sunyi. Kali ini Rani tidak ingin terpengaruh oleh desakan siapapun untuk jatuh cinta. Baginya semua akan terjadi pada waktunya. Cinta tidak akan hadir hanya karna dipikirkan bahwa ia telah mencintai, tapi cinta hanya ada karena kau merasakannya. Tanpa harus, tanpa jangan, dia akan tetap ada dihatimu, tiba-tiba dan begitu saja, tanpa rencana, kapan, dimana atau siapa. Tidak tahu. Dan bahkan sejak awal hal itu tidak dirasakannya pada Sapta.
Rani hanya menyayangkan mengapa dengan tanpa bersalahnya Sapta memperlakukannya seperti itu. Dia tentu memaafkan dan masih selalu mendoakan untuk kebaikan Sapta. Setahun telah terlewati, dia menyesal pernah berjanji untuk menunggu seseorang pulang, untuk selalu memberi kabar padanya, dan berjanji tidak akan hilang. Padahal yang ada sebaliknya, dia yang pergi meninggalkan sepi, lagi.
Ia berharap akan menemukan cinta pada nama berikutnya.

Cerita yang bagus. Narasinya mirip-mirip gaya cerpenis Noviana Kusumawardhani, atau Djenar Maesa Ayu. Hanya perlu perbanyak latihan saja, agar benar-benar seperti mereka. Dan menurutku, cuma tanda bacanya saja yang perlu sedikit dibenahi lagi. Keseluruhan, kompor gas����
ReplyDelete"karena hidup tidak akan pernah lepas dari cinta, ia selalu ada dimanapun. Kehadirannya mau tidak mau harusnya diakui saja bahwa dia ada, bahkan pada hati yang keras sekalipun dia mampu meluluhkan. Lalu bagaimana dengan hati yang kosong, mengapa cinta belum juga memilihnya untuk menetap disana, kemana cintanya mengembara, apakah dia memang ada atau tidak."
ReplyDeleteby: Tiara
itu kata-kata yang saya suka kk....
"kegellisahan pun kini mulai merambat dan terus merambat hingga mulut dan hati pun terbungkam tak bisa berkata-kata apalagi. hati pun mulai ikut berdetak kencang seolah mendengarkan auman singa. " thnks by: ME