![]() |
Siapa yang butuh kehangatan dari segelas kopi, saat tatapannya saja sudah cukup hangat untuk udara sedingin ini. Mungkin hari ini hujan memang turun sangat deras, dan dia menjebakku untuk tetap di tempat ini.
“sebenernya aku gak terlalu suka seni pada kopi”
“maksudnya?” tanyaku.
“siapa yang butuh gula dengan bentuk hati, saat kamu ada bersamaku” aku benar-benar suka mendengar cara bicaranya, bagiku seindah itu, rasanya setiap kata-katanya otomatis terekam dalam memori ingatanku. Dan kemudian terurai lagi, nada-nada yang berulang. Suaranya, genggaman tangannya dan suasana hujan yang lebih terkesan dramatis. Tentangnya, selalu indah.
Sudah empat tahun kami tidak pernah bertemu, semenjak kelulusan SMA. Aku meneruskan hidupku dan sibuk dengan kuliah kedokteranku, memang cukup sibuk, hingga suatu hari aku tahu ada reuni anak-anak SMA kami setahun yang lalu di rumah Alva, dan aku tidak bisa menghadirinya. Sebetulnya saat aku mendengar kabar bahwa rumah dia yang akan menjadi tempat reuni teman-teman kami, aku sungguh ingin datang, seolah-olah kenangan masa lalu terbuka lagi di ingatanku.
Aku kembali ke masa abu-abu itu.
Hujan turun tidak terlalu deras, tapi juga tidak hanya gerimis yang ditumpahkan awan di langit. Bau tanah yang basah dengan sepatu yang sudah tak nyaman lagi kupakai karena sangat kotor akibat cipratan-cipratan hujan dari kendaraan yang berlalu lalang. Aku sedang dipinggir jalan, menunggu seseorang menjemputku, kala itu adalah jam pulang sekolah. Alva mengantarku pulang ke rumah dengan motornya, aku tidak tahu motornya apa, tapi aku masih ingat, maaf aku tidak pandai mendeskripsikan, biar kamu saja lah yang berimajinasi.
Saat-saat berdua dengannya waktu terasa berhenti berdetik dan jantungku sekian detik bahkan terasa tak berdetak. Aku masih ingat saat dia mengantarku pulang, sebenarnya dia tidak pergi ke sekolah hari itu, katanya sakit. Tapi dia bersikeras ingin mengantarku pulang. Entah karena dia tidak benar-benar sakit atau memang hanya ingin saja melakukan itu, aku tidak tahu.
“katanya kamu kuliah kedokteran, ya, bu dokter?” tanya Alva sambil mengambil gelas kopinya, menyesap perlahan, mungkin karena masih panas. Pertanyaan itu langsung memanggilku kembali ke masa sekarang. Sebenarnya aku agak sedikit kesal, dia tidak membiarkanku mengenang masalalu sebentar lagi saja. Ah, tapi tidak apa-apa, biar nanti saja ku teruskan bercerita padamu.
“ah, iya?”
“lagi melamun apa, sampai tidak mendengarku?”
Ngelamunin kamu, tahu. Ucapku dalam hati dan aku rasa aku tersenyum, kemudian Alva sedikit mencondongkan kepalanya kearahku, ingin memastikan apakah aku baik-baik saja.
“kamu jadi... mendaftar polisi?” tanyaku.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?”
“kamu masih sama” kataku.
“apa?”
“tidak pernah mau kalah, hehe”
“memang aku begitu?”
Ya, kamu begitu. Sama sepertiku yang tidak pernah mau kalah dan egois. Itulah mengapa kamu dan aku sekarang bukan lagi menjadi kita, batinku. Aku sangat sedih teringat mengapa kita berpisah, saat kita sedang saling jatuh cinta. Dulu, sifat kita cenderung terlalu sama, keras kepala, aku tahu. Kenapa kita sama?, inginku kita berbeda saja. Ketika cinta kita kalah dengan ego masing-masing, aku sadar, ternyata kamu tidak terlalu kuat mencintai dan aku adalah orang yang tidak ingin memaksakan.
Lalu aku ceritakan rutinitasku akhir-akhir ini, begitupun dengan Alva. Tentang aku yang sibuk kuliah maupun dengan organisasi di kampus, tentang dia yang memang ternyata benar sudah menjadi seorang polisi—sejak dua tahun yang lalu katanya, dan dia juga akan tetap melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Cita-cita yang sempat dibaginya padaku, dulu. Obrolan yang hangat, di temani segelas kopi masing-masing dengan kepulan uap yang belum juga hilang, padahal sudah cukup lama kopi ini tersaji. Ah, kepulan uap itu, lagi-lagi membuatku bernostalgia.
Aku kembali pada empat tahun lalu.
“pacar, a Al?”
“calon”
“calon istri?, masih SMA ah a”
“bukan bang, calon pacar” kata Alva sambil melirik dan tersenyum kearahku. Sore itu pulang sekolah, Alva mengajakku ke kedai kopi kecil langganannya, kedai kopi bang Mamat. Dan tentu saja saat itu kita belum berpacaran, bisa dibilang masih masa-masa PDKT. Itulah mengapa uap kopi selalu membangkitkan kenangan yang tertidur, tidak mati—karena aku tak ingin membunuhnya. Tentu saja kenangan kita selalu terikat dengan itu, karena di hari itu pula dia menyatakan perasaannya padaku.
Banyak hal yang kita lalui, banyak senangnya juga dukanya, keseruan masa remaja, canda tawa dan lalu kesedihan saat harus berpisah.
“aku harus pergi sekarang, ada tugas dari kantor yang belum selesai di urus..”
Pergi, lagi? Apa kita akan bertemu lagi, meski empat tahun yang akan datang?
“Ujan sudah reda, aku juga kayanya harus balik ke kampus” kataku.
Aku bangkit dari meja cafe dengan nomor 25 itu, bersamaan dengan Alva yang juga akan segera meninggalkan tempat ini.
“senang bertemu lagi setelah empat tahun tanpa kabar” ucap Alva sebelum berjalan keluar cafe.
“Al... Alvano!” seseorang berteriak, seorang wanita. Anggun, terlihat lebih dewasa daripada aku—mungkin karena gaya berpakaiannya. Senyumnya manis, matanya berbinar melihat Alva.
“o iya kenalin an, ini Tara, pacarku, bulan depan kita bertunangan” ucap Alva memperkenalkan calon tunangannya.
“Tara, tunangannya Alva” wanita itu menjabat tanganku dengan senyum yang menegaskan bahwa dia bangga menyandang status sebagai seorang calon tunangan Alvano dwi putra.
“Alana” ucapku sambil menyambut tangannya, aku mantan pacar Alva.
Hujan sudah reda sedari tadi, mereka melangkah keluar. Aku juga, mengambil arah pintu lain dari cafe ini, agar tidak usah mengikuti mereka. Aku tidak sedih, pun marah. Yang jelas aku juga tidak bahagia mendengar kabar ini di depanku. Aku berjalan menelusuri trotoar di sepanjang cafe, kebetulan kampusku tidak berjarak jauh dari sini, cukup berjalan beberapa menit.
Langkahku semakin cepat hingga tak sadar bahwa hujan turun lagi di atas langit abu-abu, aku menerobos hujan yang semakin deras. Aku hanya ingin cepat pulang, aku ingin pulang ke rumah! Bukan ke kampus. Kunaiki taxi, sembari meninggalkan cafe itu di belakangku sampai tenggelam dari pandangan. Dan aku yakin uap kopi di meja nomor 25 itu sudah lenyap sekarang—hilang. Kopinya sudah dingin, seperti hujan dan mataku.

Comments
Post a Comment