Skip to main content

Pesona senja #Cerpen1

Source
Langit senja memang selalu tampak menarik di mataku, tidak panas layaknya siang yang benderang, atau pun dinginnya malam yang mencekam. Begitulah pesona langit senja untukku—menentramkan. Karena keelokan rupanya, warna jingga yang indah terlukis sempurna dan udaranya yang benar-benar menyenangkan. Tapi siapa kira, jika ada ‘Senja’ lain yang merampas perhatianku—yang bahkan pesonanya lebih menarik di hatiku. 


“Sejak kapan?” Tanya Ira yang duduk disampingku ketika mengerjakan tugas fisika yang benar-benar memeras otak. 



“sejak kapan apanya?” heranku yang benar-benar merasa bingung dengan pertanyaan sahabatku itu. 



“Raihan Senja Gumelar” ujarnya tiba-tiba, sampai membuatku tercengang beberapa detik sebelum aku sempat menjawab, “matamu Ra, gak bisa bohong! Terus saja mengekori gerak-gerik Senja di sekolah” tambahnya. 



Darimana Ira tahu aku memendam perasaan pada teman angkatan kami itu, sementara aku belum pernah menceritakannya. Ira benar-benar peka atas sikapku. Ucapan Ira membuatku tidak bisa mengelak, ya, karena itu memang benar adanya. Aku tidak pandai berbohong, saat berusaha pun, gelagatku pasti ketahuan oleh Ira—sahabatku yang selama delapan tahun selalu setia menemaniku ini. 



Akhirnya aku mengaku saja kalau aku memang menaruh hati pada Senja, anak kelas sebelah yang kebetulan satu kelas dengannya. Aku menceritakan semua, bagaimana awal aku menyukainya, sampai sekarang aku masih mengaguminya. Mungkin Ira bisa membantuku untuk dekat dengan Senja karena dia teman sekelasnya, tapi aku tidak begitu yakin. Senja itu orangnya super-duper cuek, aku tidak pernah berlama-lama berbicara dengannya, kalaupun bicara, mungkin hanya sekedar basa-basi, itu pun hanya dalam keadaan yang memungkinkan.



Tiga hari berlalu, pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah. Ini memang biasa aku lakukan agar bisa ke perpustakaan sebelum masuk sekolah, aku sangat senang membaca buku. Pak Ahmad—satpam sekolahku pun sudah mengerti untuk selalu membukakan gerbang di waktu yang sangat pagi ini, di saat orang-orang belum datang. Aku berjalan di koridor sekolah, menyusuri deretan ruang-ruang kelas menuju perpustakaan. Alangkah kagetnya aku saat melihat Senja keluar dari perpustakaan, tadinya aku mau putar arah dan langsung ke kelas saja daripada harus berpapasan dengannya dikoridor. Aku tidak sanggup harus menahan debaran-debaran jantung yang tak beraturan setiap kali berdekatan dengannya. Makannya, hal yang paling benar, ya, dengan menghindarinya.



“Ranita…” aku tersekat napasku sendiri saat berjalan cepat menjauhinya, sialnya dia malah memanggilku. Aneh sekali, ini kali pertama dia memanggil dan bertanya padaku “kenapa balik lagi, mau kemana?” aku tidak boleh goyah, aku harus tetap menunjukan tidak ada perasaan yang berbeda pada Senja, aku harus bersikap biasa saja. “iya nih, aku mau ke kelas..” “oh gitu, mau ke kelas bareng?” tawarannya, sontak membuatku salah tingkah bahkan aku menjawab dengan sedikit gemetar “boleh..” 



“nggak ke pagian ke sekolah jam segini?” tanyanya sambil mengangkat tangan kiri untuk melihat jam tangan yang dikenakannya. 


“udah biasa..” “suka ke perpus ya?” tanyaku.


“oh iya, sebelum sekolah masuk, aku pasti ada diperpustakaan” 


“kok, aku gak pernah liat kamu, setiap pagi aku juga ke perpustakaan” jawabku sambil memberanikan diri melihatnya yang berjalan disampingku. 



Tiba-tiba dia berhenti “mungkin aku datang lebih pagi dari kamu, buktinya kamu lihat aku keluar dari perpus waktu kamu baru datang tadi, kan” aku terkejut, sepagi apa dia datang,  padahal aku sendiri selalu datang pukul 06:00 ke sekolah. 



Sambil berjalan kembali, Senja melipat kedua tangan didadanya, dia melirik kearahku dan tersenyum. Spontan saja saat itu pasti wajahku bersemu merah, meskipun tidak melihat wajahku, tapi aku merasakannya. Rasanya sangat aneh saat berdekatan dan berbicara dengannya, canggung, malu, tapi juga senang, dan satu lagi, nyaman. 



Di perjalanan, sebelum tiba di depan kelas, aku terus terlibat percakapan dengannya, berselang beberapa menit, aku tiba didepan kelas begitupun dengan Senja, ruang kelasnya tepat disamping kelasku. Sebelum tenggelam di balik pintu kelasnya, Senja berhenti beberapa detik lalu tersenyum kearahku dan berbalik kembali masuk ke dalam kelas tanpa sempat aku membalas untuk tersenyum. 



Ya, hari itu adalah hari pertama aku benar-benar berbicara dengannya, bukan sekedar sapaan dan basa-basi seperti yang selama dua tahun ini selalu aku lakukan dengannya. Hari itu adalah hari yang menegangkan sekaligus membahagiaan untukku, dan hari itu pula, hari dimana aku melihat Senja untuk terakhir kalinya. Sampai hari ini, satu bulan setelah kejadian itu, aku tidak lagi melihatnya. Apa yang terjadi padanya?, kata teman-temannya dia pindah sekolah atau kabar bahwa dia pergi ke luar kota, tapi semua berita itu tidak ada kejelasan yang pasti.



Tidak ada dimanapun, di lapangan tempat ia selalu bermain basket pulang sekolah, di kantin, di perpustakaan, di manapun di sekolah ini aku tidak menemukannya. Aku lebih menikmati rasa sakit karena tidak mengungkapkan perasaanku, setidaknya aku masih bisa melihat dan memperhatikannya meskipun hatiku tersiksa, daripada harus kehilangan tanpa kejelasan kepergiannya. Aku yang tersenyum saat mencuri pandang kearahnya, hatiku yang berdesir lembut saat kedua matanya melihat ke dalam mataku, jantungku yang berdetak tidak normal saat di dekatnya. Aku merindukan perasaan-perasaan itu. Bahagia karena cinta itu sederhana, hanya dengan menyadari dia ada disekitarku saja aku bahagia, tapi sekarang kebahagiaanku seolah pupus karena cintaku telah hilang.



Suatu hari Ira datang ke rumahku, di hari libur sekolah setelah berakhirnya ujian semester SMA kami. Tapi keadaanku sudah banyak membaik dari kekalutan beberapa bulan lalu karena kepergian Senja. Beberapa bulan yang lalu aku sempat sakit dan tidak makan berhari-hari, aku selalu menghindari apapun yang berhubungan dengan Senja, bahkan aku tidak mau lagi melihat sang langit senja yang selalu memesonakan pandanganku, karena saat aku melihatnya, kerap kali terlukis bayangan Senja yang tersenyum di langit itu. Tapi sekarang, aku sadar,  jika Senja tak memperdulikanku, tidak seharusnya aku terpuruk seperti itu. Sekarang aku mulai terbiasa untuk merelakannya, sampai Ira datang dengan sebuah amplop berwarna oren di tangan yang isinya adalah selembar surat yang meruntuhkan pertahananku selama ini untuk merelakan kepergiannya, surat itu dari Senja, untukku. 



Untukku? Aku membukanya karena benar-benar penasaran dengan isi pesan di dalamnya.




Untuk Ranita Adriana



Kamu tentu sudah mengenalku, satu hari sebelum aku pergi, kita bertemu dikoridor sekolah saat kamu hendak menuju perpustakaan, ya memang seakan-akan tanpa sengaja. Padahal aku sudah merencanakannya karena tahu kamu pasti di sana. Aku sempat mendengar pembicaraanmu dengan sahabatmu—Ira, saat di kantin waktu makan siang. Apa kamu benar-benar menyukaiku?, karena nama Senja yang kau sebut-sebut, aku tidak mungkin salah bukan?, kalau di sekolah kita si Senja hanyalah aku. Makannya hari itu aku memanggilmu dan mengajakmu bicara, itu tidak mudah. Dan saat itu aku bisa mengerti tanpa harus banyak kata-kata yang kamu ucapkan. Caramu menatapku sama dengan bagaimana aku menatapmu, mungkin kamu tidak menyadari selayaknya aku. Kamu mungkin tidak tahu kalau aku sering sekali menangkap basah kamu saat memperhatikanku, atau saat kamu menyadarinya kamu berpaling dan pergi, kamu semakin terlihat lucu dan menarik untukku. Ranita, aku mempunyai perasaan yang sama seperti yang kamu miliki. Tunggu aku, aku akan kembali.



Raihan Senja Gumelar




Ya, selama ini asumsiku salah tentang Senja, aku kira dia tidak memperdulikanku, aku kira dia hanya menganggapku seseorang yang tak kasat mata—tak terlihat. Tanpa sadar aku meneteskan air dari pelupuk mataku, membasahi kertas yang kugenggam dengan erat, aku tak percaya Senja ternyata mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Aku selalu berkata pada diriku bahwa perasaanku pada Senja telah hilang bersama dengan kepergiannya, tapi hanya ada satu bagian dalam diriku yang selalu menolak pengakuan bahwa aku tak mengharapkan Senja lagi, bagian itu adalah hatiku. Jujur saja, hatiku memang benar, aku bahagia membaca surat itu, jika aku bahagia, bukankah itu artinya aku masih mencintainya?.



                                                      *



Laki-laki itu berdiri beberapa meter di hadapanku, dia melangkah mendekat, dengan senyuman yang masih sama seperti yang aku ingat satu tahun lalu saat kami duduk di bangku SMA, saat hari dimana esoknya ia hilang dari pandanganku, dari hari-hariku. Sekarang aku tahu alasannya kenapa dia pergi, dia pergi untuk kembali. Kembali menjemputku untuk pergi bersamanya. 



Ya, kami akan menuntut ilmu di salahsatu Universitas yang sama di Jepang tahun ini, kami akan menghabiskan waktu, menuju mimpi-mimpi dan masa depan bersama. Semoga semesta merestui.



Kami menapaki jalan dibawah langit senja, berteman angin yang berhembus membalut kebahagiaan menuju bandara. Kini langit senja tampak semakin indah dimataku, begitupun dengan Senja yang selalu dan akan tetap indah dihatiku.




SELESAI


Comments

Another popular post ..

Sebuah nama #Cerpen3

Karena hidup tidak akan pernah lepas dari cinta, ia selalu ada dimanapun. Kehadirannya mau tidak mau harusnya diakui saja bahwa dia ada, bahkan pada hati yang keras sekalipun dia mampu meluluhkan. Lalu bagaimana dengan hati yang kosong, mengapa cinta belum juga memilihnya untuk menetap disana, kemana cintanya mengembara, apakah dia memang ada atau tidak. Dia tidak pernah tau siapa yang akan disalahkannya karena sepi yang selalu saja menggema dalam dirinya, tidak tahu pada nama siapa ia harus menyampaikan rindunya. Bahkan dia lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Terakhir kali seseorang pernah mengisi relung-relung jiwanya, tiga tahun yang lalu. Cinta begitu membahagiakan, menyenangkan, tapi kadang tak menenangkan, bagaimana bisa tenang, saat malam datang bersama rindu yang tak pernah basa-basi untuk datang. Baginya itu sudah berlalu, dia tidak pernah membawa perasaan masa lalu di hidupnya hari ini. Karena memang tidak tersisa apapun selain nama yang masih ia ingat, dan har...

Tentang maaf

Meminta apa yang paling sulit? Buat keadaan saat ini, saya pilih meminta maaf. Ya sebenarnya nggak akan sesulit itu kalo kita punya keberanian. Berani ngomong duluan, berani mengakui kesalahan. bahkan kalo kita gak salah sekalipun! ini nih, berani banget. bikin pengin kasih 5 jempol kalo bisa, sama orang yang setulus ini. Berhubung cuma punya 4 jempol itupun keitung kaki, jadi yaudah, deh, saya acungkan 2 jempol tangan aja karena ngacungin kaki agak-agak gak sopan gitu kan ya, padahal itu kan suatu penghargaan yang amat mulia. Dan berani yang terakhir adalah berani ditolak, gak papa yang penting niat kita lurus niat kita tulus. Diterima atau ditolak itu urusan dia. intinya berani mengesampingkan ego. Ngomongin soal maaf, pasti manusia ada aja alasan untuk harus berurusan dengan yang gini- gini nih. Karena kan, manusia itu tempatnya khilaf ya. Iya nggak, WAHAI PARA MANUSYAAA, WOY?!!! Tapi adakalanya kita ada ditempat dimana sebenernya kita tuh gak salah salah amat atau b...

Siapa kamu?

Ketika pundakmu terasa seribu kali lebih berat, dan tubuhmu terpaksa kamu topang kuat-kuat. Ketika jiwamu terasa sesak, tolong jangan terus bergerak, ayo, istirahatlah sejenak. Kamu butuh ruang untuk hening, ruang yang beda bagi manusia masing masing. Apa dan dimana itu cuma kamu yang tahu, apa yang membuatmu dapat bernapas lepas sehingga bebanmu terlepas bebas. Memaksa lari ketika tenagamu hanya cukup untuk berjalan itu tidak patut. Berhentilah mengejar-ngejar kalau kamu lupa apa yang kamu tuju itu, apalagi sampai lupa hak kamu untuk bahagia, yang kupikir dalam hidup sangatlah perlu. Dahsyatnya usaha serta hebatnya kamu berkorban akan sia-sia, jika semua itu membuatmu lupa siapa kamu. Sejauh mana tulusmu, sudahkah kamu lakukan memang untukmu, atau untuk sesuatu yang membuat dadamu sesak itu. Boleh saja, melihat kilau pencapaian manusia lain yang memesona matamu, tapi bukan berarti kamu juga harus menjadi seperti itu. Kamu juga tidak tahu seperti apa usaha-usaha yang...