Skip to main content

Posts

Sebuah nama #Cerpen3

Karena hidup tidak akan pernah lepas dari cinta, ia selalu ada dimanapun. Kehadirannya mau tidak mau harusnya diakui saja bahwa dia ada, bahkan pada hati yang keras sekalipun dia mampu meluluhkan. Lalu bagaimana dengan hati yang kosong, mengapa cinta belum juga memilihnya untuk menetap disana, kemana cintanya mengembara, apakah dia memang ada atau tidak. Dia tidak pernah tau siapa yang akan disalahkannya karena sepi yang selalu saja menggema dalam dirinya, tidak tahu pada nama siapa ia harus menyampaikan rindunya. Bahkan dia lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Terakhir kali seseorang pernah mengisi relung-relung jiwanya, tiga tahun yang lalu. Cinta begitu membahagiakan, menyenangkan, tapi kadang tak menenangkan, bagaimana bisa tenang, saat malam datang bersama rindu yang tak pernah basa-basi untuk datang. Baginya itu sudah berlalu, dia tidak pernah membawa perasaan masa lalu di hidupnya hari ini. Karena memang tidak tersisa apapun selain nama yang masih ia ingat, dan har...

Kepulan uap masa abu-abu #Cerpen2

Siapa yang butuh kehangatan dari segelas kopi, saat tatapannya saja sudah cukup hangat untuk udara sedingin ini. Mungkin hari ini hujan memang turun sangat deras, dan dia menjebakku untuk tetap di tempat ini. “sebenernya aku gak terlalu suka seni pada kopi” “maksudnya?” tanyaku. “siapa yang butuh gula dengan bentuk hati, saat kamu ada bersamaku”  aku benar-benar suka mendengar cara bicaranya, bagiku seindah itu, rasanya setiap kata-katanya otomatis terekam dalam memori ingatanku. Dan kemudian terurai lagi, nada-nada yang berulang. Suaranya, genggaman tangannya dan suasana hujan yang lebih terkesan dramatis. Tentangnya, selalu indah. Sudah empat tahun kami tidak pernah bertemu, semenjak kelulusan SMA. Aku meneruskan hidupku dan sibuk dengan kuliah kedokteranku, memang cukup sibuk, hingga suatu hari aku tahu ada reuni anak-anak SMA kami setahun yang lalu di rumah Alva, dan aku tidak bisa menghadirinya. Sebetulnya saat aku mendengar kabar bahwa rumah dia yang...

Pesona senja #Cerpen1

Source Langit senja memang selalu tampak menarik di mataku, tidak panas layaknya siang yang benderang, atau pun dinginnya malam yang mencekam. Begitulah pesona langit senja untukku—menentramkan. Karena keelokan rupanya, warna jingga yang indah terlukis sempurna dan udaranya yang benar-benar menyenangkan. Tapi siapa kira, jika ada ‘Senja’ lain yang merampas perhatianku—yang bahkan pesonanya lebih menarik di hatiku.  “Sejak kapan?” Tanya Ira yang duduk disampingku ketika mengerjakan tugas fisika yang benar-benar memeras otak.  “sejak kapan apanya?” heranku yang benar-benar merasa bingung dengan pertanyaan sahabatku itu.  “Raihan Senja Gumelar” ujarnya tiba-tiba, sampai membuatku tercengang beberapa detik sebelum aku sempat menjawab, “matamu Ra, gak bisa bohong! Terus saja mengekori gerak-gerik Senja di sekolah” tambahnya.  Darimana Ira tahu aku memendam perasaan pada teman angkatan kami itu, sementara aku belum pernah menceritakannya. I...