Skip to main content

Posts

Rindu pertama di 2018

Tak genap rasanya bila kukatakan mengenalmu. Kita hanya saling tahu tak saling bertemu. Kini kurasakan lagi hembusnya angin rindu. Yang datang bersama langit membiru. Lagi-lagi membuatku tersedu sendu. Tahun tentangmu berganti tahun baru. Tapi rinduku tetap padamu menuju. Dimana ragamu aku tak tahu. Dimana hatimu...adalah padaku. Kukirim pesan rindu dari hujan dimataku. Pada hujan yang juga turun ditempatmu. Pesonamu luluhkan aku hilangkan angkuhku. Untuk nyatakan tulus rindu pertamaku. 14 Januari 2018

Sebuah nama #Cerpen3

Karena hidup tidak akan pernah lepas dari cinta, ia selalu ada dimanapun. Kehadirannya mau tidak mau harusnya diakui saja bahwa dia ada, bahkan pada hati yang keras sekalipun dia mampu meluluhkan. Lalu bagaimana dengan hati yang kosong, mengapa cinta belum juga memilihnya untuk menetap disana, kemana cintanya mengembara, apakah dia memang ada atau tidak. Dia tidak pernah tau siapa yang akan disalahkannya karena sepi yang selalu saja menggema dalam dirinya, tidak tahu pada nama siapa ia harus menyampaikan rindunya. Bahkan dia lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Terakhir kali seseorang pernah mengisi relung-relung jiwanya, tiga tahun yang lalu. Cinta begitu membahagiakan, menyenangkan, tapi kadang tak menenangkan, bagaimana bisa tenang, saat malam datang bersama rindu yang tak pernah basa-basi untuk datang. Baginya itu sudah berlalu, dia tidak pernah membawa perasaan masa lalu di hidupnya hari ini. Karena memang tidak tersisa apapun selain nama yang masih ia ingat, dan har...

Kepulan uap masa abu-abu #Cerpen2

Siapa yang butuh kehangatan dari segelas kopi, saat tatapannya saja sudah cukup hangat untuk udara sedingin ini. Mungkin hari ini hujan memang turun sangat deras, dan dia menjebakku untuk tetap di tempat ini. “sebenernya aku gak terlalu suka seni pada kopi” “maksudnya?” tanyaku. “siapa yang butuh gula dengan bentuk hati, saat kamu ada bersamaku”  aku benar-benar suka mendengar cara bicaranya, bagiku seindah itu, rasanya setiap kata-katanya otomatis terekam dalam memori ingatanku. Dan kemudian terurai lagi, nada-nada yang berulang. Suaranya, genggaman tangannya dan suasana hujan yang lebih terkesan dramatis. Tentangnya, selalu indah. Sudah empat tahun kami tidak pernah bertemu, semenjak kelulusan SMA. Aku meneruskan hidupku dan sibuk dengan kuliah kedokteranku, memang cukup sibuk, hingga suatu hari aku tahu ada reuni anak-anak SMA kami setahun yang lalu di rumah Alva, dan aku tidak bisa menghadirinya. Sebetulnya saat aku mendengar kabar bahwa rumah dia yang...